Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
LIVIYA, SANTRI KECIL YANG DOANYA DIKABULKAN*
Di sebuah pesantren yang sejuk di Bandung, ada seorang santri kecil bernama Liviya. Usianya masih muda, tapi hatinya besar sekali. Setiap hari Liviya bangun paling pagi. Bukan karena disuruh Ustadzah, tapi karena dia mau jadi yang pertama ambil air wudhu. Katanya, "Kalau ambil wudhu paling pagi, airnya masih dingin dan masih diberkahi malaikat." Liviya itu anaknya ceria, tapi akhir-akhir ini dia sering sedih. Bukan karena apa-apa, karena uang jajannya lagi mepet. Teman-temannya bisa jajan cilok, es teh, seblak di kantin. Liviya cuma bisa lihat sambil senyum. Di dalam dompet kecilnya yang warna pink, cuma ada seribu perak yang sudah lecek. Suatu malam, setelah semua teman sekamarnya tidur, Liviya duduk di sajadahnya. Lampu kamar sudah dimatikan, cuma ada cahaya remang-remang dari jendela. Dia tidak minta es krim, tidak minta baju baru. Doanya simpel banget. "Ya Allah, Liviya nggak minta banyak. Liviya cuma mau besok tetap bisa semangat ngaji, walaupun dompet Liviya lagi mepet. Sehatkan Emah di rumah ya Allah." Setelah doa itu, Liviya tidur dengan nyenyak. Besok paginya, kejadian ajaib terjadi. Waktu pelajaran tahfidz, Ustadzah tiba-tiba mengumumkan ada lomba menulis cerita islami. Hadiahnya? Uang jajan 100 ribu untuk juara 1! Liviya kaget. Dia memang suka nulis cerita. Teman-temannya mendorong, "Ayo Liv, ikut! Cerita kamu kan bagus-bagus!" Sepanjang hari itu, di sela-sela ngaji dan sekolah, Liviya nulis. Dia nulis tentang seorang santri kecil yang dompetnya mepet tapi hatinya kaya karena doa. Dia tulis dengan jujur, dengan hati. Tiga hari kemudian, pengumuman. Dan... "Juara 1 lomba cerita islami adalah... LIVIYA!" Satu pesantren tepuk tangan. Liviya maju ke depan dengan malu-malu, matanya berkaca-kaca. Di tangannya, amplop putih berisi 100 ribu. Hari itu Liviya tidak langsung jajan. Dia belikan cilok untuk satu kamar, dia traktir teman-temannya. Sisanya dia tabung lagi. Di malam hari, Liviya kembali duduk di sajadahnya. Dia berbisik, "Makasih ya Allah, ternyata doa mepet kemarin dikabulkan dengan cara yang indah." Dan sejak hari itu, Liviya percaya. Mepet itu bukan akhir. Mepet itu justru jalan Allah buat ngasih rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. ---