Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Ternyata Itu Bukan Manusia.....

Ternyata Itu Bukan Manusia..... gambar oleh Indah Nur Fitriah
Yang jualan bukan manusia. Ibu yang jual gorengan tadi wajahnya rata, tidak ada mata hidung mulut. Tapi gorengan di wajannya adalah potongan jari-jari yang masih bergerak. Bapak yang jual kepala kambing, kepalanya adalah kepala kambing itu sendiri yang masih mengembik pelan. Dan semua "pembeli" di pasar itu menoleh ke Dito dan Sinta bersamaan. Puluhan wajah pucat, mata hitam bolong. Dito teriak, tarik Sinta lari balik ke tenda. Mereka berdua jatuh, napas ngos-ngosan, badan basah bukan karena hujan, tapi keringat dingin. Bau sate yang tadi wangi, sekarang jadi bau daging busuk menyengat di tenda. Dito buka jaket Sinta. Di tangannya, ada satu bungkus daun pisang yang tidak ada tadi. Masih hangat. Sinta bukanya pelan. Isinya bukan bakso. Isinya tanah kuburan basah, penuh cacing kecil, dan selembar kertas sobekan. Tulisan di kertas itu pakai darah: *TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR. BESOK DATANG LAGI BAWA TEMAN YA.* Malam itu kalian tidak tidur. Pasar itu masih ramai sampai jam 2 pagi, terus hilang begitu saja bersama kabut. Pagi jam 5, kalian turun tanpa summit. Tidak ada yang cerita apa-apa di jalan. Sampai basecamp, penjaga basecamp lihat daftar logbook kalian dan bilang, "Kalian berempat ya? Tadi malam yang naik 5 orang? Satu lagi mana? Yang pakai ponco kuning?" Kalian cuma berempat. Tidak ada yang pakai ponco kuning. Tapi di foto yang Reza jepret di Pos 3 malam itu, di belakang tenda kalian, ada satu bayangan tambahan. Berdiri jauh, pakai ponco kuning, melambai. Sinta sampai sekarang masih simpan bungkusan daun pisang itu di kosnya. Katanya tiap malam Jumat, bungkusan itu masih hangat sendiri.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

11 Komentar