Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
MISTERI GUNUNG LAWU — BAGIAN 2
PENJAGA YANG TIDAK PERNAH MATI Sejak pulang dari Gunung Lawu, hidup Arga tidak pernah normal. Setiap pukul 03.13 dini hari, ia terbangun karena mendengar suara gamelan. Pada malam ketujuh, suara itu datang dari dalam lemari kamarnya. Tok… tok… tok… “Ga… buka. Aku kedinginan,” terdengar suara Bima. Arga gemetar. Sebelum membuka lemari, ponselnya berdering. Seorang lelaki tua berbisik, “Kalau ingin tahu apa yang terjadi kepada temanmu, datanglah ke Tawangmangu. Dan kalau bayanganmu tidak mengikuti gerakanmu, jangan menoleh ke belakang.” Dua hari kemudian, Arga kembali ke warung tua. Penjaga warung menunjukkan sebuah cincin kuningan bergambar mahkota Jawa. “Dalam kisah yang diwariskan turun-temurun, Gunung Lawu sering dikaitkan dengan Prabu Brawijaya V dan jejak kerajaan Majapahit,” jelasnya. “Konon, ada pengawal yang bersumpah menjaga jalan menuju tempat pertapaan sang raja. Ia tidak pernah menyelesaikan tugasnya.” “Kenapa?” tanya Arga. “Karena orang yang dijaganya telah pergi. Namun, sumpahnya tidak pernah berakhir.” Penjaga itu menjelaskan bahwa sosok tersebut mencari pengganti. Arga terpilih karena menjawab panggilan dari hutan. Malam itu, Arga mengikuti lelaki tua menuju jalur setapak yang tidak ada di peta. Di ujung jalan berdiri gapura batu. Di baliknya terbentang kerajaan megah dengan lentera merah dan puluhan orang berpakaian tradisional. Wajah mereka pucat dan mata mereka kosong. Seorang perempuan tua berlutut di hadapan Arga. “Gusti, akhirnya panjenengan kondur.” Arga mundur ketakutan. Semua orang di jalan itu ikut berlutut. Gerbang kerajaan terbuka, memperlihatkan seorang lelaki bermahkota yang wajahnya sama persis dengan wajah Arga. Di dalam sebuah ruangan, lelaki itu menunjukkan cermin besar. Dalam pantulannya, Arga melihat Bima dan Rendi mengenakan pakaian bangsawan kuno. “Temanmu tidak bisa pulang tanpa seseorang yang menggantikan mereka,” kata lelaki bermahkota. “Siapa sebenarnya Anda?” tanya Arga. “Aku penjaga pertama. Aku telah menjaga gerbang ini selama ratusan tahun. Aku hanya ingin bebas.” Arga menolak menggantikannya. Namun, ketika ia melihat kembali ke dalam cermin, Bima dan Rendi perlahan berubah menjadi sosok penjaga. Penjaga tua yang membawanya ke tempat itu akhirnya mengaku pernah menjadi penjaga sebelumnya. “Aku berhasil keluar,” katanya, “tetapi aku meninggalkan namaku di sini.” Tiba-tiba, semua lentera padam. Suara ratusan orang berbisik bersamaan: “PENJAGA BARU TELAH DATANG.” Arga berteriak. Ketika membuka mata, ia sudah berada di pinggir jalan raya Tawangmangu. Di tangannya terdapat cincin kuningan dan secarik kertas bertuliskan: “Sumpah telah berpindah. Gerbang kini menjadi tanggung jawabmu.” Malam itu, Arga berdiri di depan cermin kamar mandi. Ia mengangkat tangan kanan. Pantulannya mengikuti gerakan itu, tetapi ketika Arga tersenyum, pantulannya tetap diam. Lalu bibir pantulan itu bergerak. “Sudah waktunya pulang, Gusti.” Lampu padam. Dua tangan pucat muncul dari dalam cermin dan mencengkeram bahu Arga. Keesokan paginya, rumahnya ditemukan terbuka. Arga menghilang. Yang tersisa hanyalah cermin retak, cincin kuningan, dan secarik kertas: “PENJAGA LAMA TELAH BEBAS.” Beberapa minggu kemudian, seorang pendaki mengunggah foto dari puncak Lawu. Di belakangnya berdiri lelaki berpakaian bangsawan Jawa dengan mata hitam dan sebuah keris di tangan. Keterangan fotonya berbunyi: “Tadi malam aku bertemu pendaki bernama Arga. Anehnya, dia bertanya apakah aku tahu jalan menuju kerajaan yang hilang.” Foto itu dihapus beberapa jam kemudian. Pemilik akun tersebut tidak pernah ditemukan.