Aryo
1 jam
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

MISTERI GUNUNG LAWU — BAGIAN 1

MISTERI GUNUNG LAWU — BAGIAN 1 gambar oleh Aryo
PENJAGA YANG MEMBAWA PULANG SESUATU Malam itu, Arga mendaki Gunung Lawu bersama dua sahabatnya, Bima dan Rendi. Mereka ingin menyaksikan matahari terbit sekaligus membuktikan cerita mistis yang selama ini dianggap takhayul. Sebelum berangkat, seorang penjaga warung tua berpesan, “Kalau kalian mendengar suara yang memanggil nama kalian dari dalam hutan, jangan dijawab. Terutama kalau suara itu terdengar seperti orang yang kalian kenal.” Arga tertawa. Namun, lelaki tua itu hanya menatap jalur pendakian yang diselimuti kabut. “Gunung ini menyimpan banyak cerita, Nak. Konon, ada kerajaan yang tak pernah benar-benar pergi.” Pukul sebelas malam, kabut turun begitu tebal. Dari balik pepohonan terdengar suara perempuan menyanyikan tembang Jawa. Di antara kabut, berdiri seorang perempuan berbaju putih dengan rambut panjang menutupi wajahnya. “Permisi, Mbak. Jalur ke puncak lewat mana?” tanya Rendi. Perempuan itu mengangkat kepala. “Puncak? Kalian sudah melewatinya.” Mereka kebingungan. Batu besar yang mereka lewati kini muncul lagi di depan mereka. Di sampingnya terdapat tiga pasang sandal pendaki yang modelnya sama persis dengan sandal mereka. Tiba-tiba, Bima menghilang. “Ga... sini. Aku menemukan jalan pintas,” terdengar suara Bima dari balik kabut. Arga hendak mendekat, tetapi Rendi mencengkeram lengannya. “Jangan! Bima dari tadi ada di belakang kita!” Arga menoleh. Bima berdiri di sana dengan wajah pucat dan mata kosong. Namun, suara Bima yang lain masih terdengar dari dalam hutan. “Arga... tolong aku. Itu bukan aku.” Sosok Bima yang berdiri di belakang mereka tersenyum terlalu lebar. “Kalian seharusnya tidak menjawab panggilan dari hutan.” Petir menyambar. Sosok itu lenyap. Arga dan Rendi berlari hingga menemukan pendapa tua di tengah hutan. Di dalamnya duduk seorang lelaki berpakaian bangsawan Jawa. “Kalian tersesat,” katanya. Lelaki itu menunjuk sudut ruangan. Di sana, Rendi duduk membelakanginya. Ketika sosok itu menoleh, wajahnya adalah wajah Arga sendiri. “Di gunung ini, manusia sering kehilangan arah,” ujar lelaki itu. “Tetapi yang paling berbahaya adalah ketika mereka kehilangan ingatan tentang siapa diri mereka sebenarnya.” Arga bertanya siapa lelaki itu. “Orang-orang menyebutku penjaga. Ada pula yang mengaitkan tempat ini dengan kisah Prabu Brawijaya dan kerajaan Majapahit.” Tiba-tiba terdengar teriakan dari luar. “ARGA! BANGUN!” Arga membuka mata. Ia terbaring sendirian di pinggir jalur pendakian. Bima dan Rendi tidak ditemukan. Di sakunya ada secarik kertas tua bertuliskan: “Dua orang datang. Satu orang pulang. Jangan mencari yang telah dipilih.” Tiga hari kemudian, Arga kembali ke warung tua. Ia menunjukkan foto mereka bertiga kepada penjaga warung. Di belakang mereka berdiri lelaki bermahkota yang sama dengan sosok dalam pendapa. Namun, saat Arga melihatnya lagi, lelaki itu kini berdiri tepat di sampingnya, dengan satu tangan bertengger di bahunya. Di belakang foto muncul tulisan yang sebelumnya tidak ada: “SELAMAT DATANG KEMBALI, PENJAGA.” Sejak hari itu, Arga sering terbangun karena mendengar tembang Jawa. Setiap kali bercermin, ia melihat lelaki bermahkota berdiri di belakangnya. Padahal, ia tinggal sendirian. Konon, Gunung Lawu tidak selalu mengambil orang yang tersesat. Terkadang, gunung itu membiarkan seseorang pulang karena ada sesuatu yang harus dibawanya ke dunia manusia. Dan sampai hari ini, tidak ada yang tahu apakah Arga benar-benar berhasil turun dari Gunung Lawu. Atau justru sesuatu dari gunung itu yang telah turun melalui dirinya. Lanjut Episode 2
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar