Mika
1 jam
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Misi Cinta Sang Santri

Misi Cinta Sang Santri gambar oleh Mika
Pagi di Pondok Pesantren Al-Hikmah selalu dimulai dengan suara bel yang terdengar nyaring, disusul langkah kaki para santri yang bergegas menuju masjid. Ada yang berjalan sambil menguap, ada yang masih merapikan peci, dan ada pula yang berlari kecil karena takut terlambat mengikuti kegiatan setelah salat Subuh. Di antara keramaian itu, Rian berjalan santai sambil membawa kitab di tangan kirinya. Wajahnya tenang, seolah hidupnya tidak memiliki masalah sedikit pun. Sayangnya, ketenangan itu hanya bertahan sampai ia membuka pintu kamarnya. “RIAN! GUE BUTUH BANTUAN LO!” Rian berhenti di ambang pintu. Di atas kasur paling dekat jendela, Fikri duduk dengan rambut berantakan dan wajah yang terlihat seperti baru menerima kabar bahwa seluruh persediaan mi instan pesantren akan dihapuskan selamanya. Rian menatapnya datar. “Kalau lo mau pinjam uang, gue nggak punya.” “Bukan uang!” “Kalau mau pinjam sarung, punya lo masih ada di lemari.” “Bukan sarung juga!” “Terus apa? Jangan bilang lo kehilangan sandal lagi. Kemarin lo baru kehilangan sebelah.” Fikri menunjuk Rian dengan ekspresi tersinggung. “Itu bukan kehilangan. Sandal gue sedang menjalani perjalanan hidup.” “Perjalanan hidup ke kamar orang lain?” “Sudahlah! Ini masalah serius.” Rian menghela napas. Ia meletakkan kitab di atas meja kecil, lalu duduk di tepi kasur Hamdan yang masih terlelap sambil memeluk bantal. “Cepat ngomong. Sebentar lagi kita harus bersiap untuk kegiatan pagi.” Fikri langsung turun dari kasur. Ia meraih sebuah buku tulis dari bawah bantal, kemudian mengeluarkan selembar kertas yang dilipat rapi. Rian memperhatikan benda itu dengan curiga. “Surat?” Fikri mengangguk pelan. “Surat cinta.” Rian terdiam. Lalu ia menoleh ke arah Hamdan yang masih tidur, seolah berharap ada seseorang yang bisa menjelaskan mengapa pagi-paginya harus dimulai dengan kegilaan seperti ini. “Lo sakit?” “Gue serius, Rian.” “Gue juga serius. Lo sakit atau nggak?” Fikri mendecakkan lidah. “Gue suka sama Naila.” Nama itu membuat Rian sedikit mengangkat alis. Naila memang cukup dikenal di lingkungan pesantren putri. Ia aktif dalam kegiatan belajar, pandai berbicara di depan umum, dan sering menjadi perwakilan santriwati dalam acara-acara tertentu. Banyak orang menyukainya karena sikapnya yang ramah, tetapi ia tidak pernah terlihat berlebihan dalam bergaul. Fikri sudah mengaguminya selama beberapa bulan. Masalahnya, keberanian Fikri selalu menghilang setiap kali Naila berada dalam jarak pandang. Pernah suatu kali, Fikri berpapasan dengan Naila di halaman saat kegiatan bersama. Naila hanya mengangguk sopan, tetapi Fikri malah membalas dengan menunduk terlalu cepat sampai pecinya jatuh. Sejak kejadian itu, Rian punya cukup alasan untuk meragukan kemampuan sahabatnya dalam urusan cinta. “Lo suka sama Naila, gue tahu,” kata Rian. “Terus hubungannya sama surat ini apa?” “Gue mau menyampaikan perasaan gue.” “Bagus. Sampaikan sendiri.” Fikri langsung menggeleng kuat-kuat. “Nggak bisa.” “Kenapa?” “Gue gugup.” “Kalau begitu, belajar mengatasi gugup.” “Rian, lo sahabat gue atau motivator seminar?” “Gue sahabat lo yang pengin hidup tenang.” Fikri duduk kembali, lalu menyodorkan surat itu. “Tolong antarkan buat gue.” Rian tidak mengambilnya. “Fik, kita tinggal di pesantren. Ada aturan. Gue nggak bisa sembarangan menyampaikan surat pribadi ke kompleks putri.” “Gue tahu! Makanya gue nggak minta lo masuk ke sana. Gue cuma minta lo menitipkannya melalui perantara yang memang bertugas menyampaikan pesan atau dokumen antarkompleks.” Rian masih terlihat ragu. Fikri segera menambahkan, “Gue sudah memastikan ada santriwati senior yang biasa membantu urusan penyampaian berkas resmi. Lo tinggal tanya prosedurnya dan serahkan melalui jalur yang benar. Kalau ternyata nggak boleh, batal. Gue nggak mau lo melanggar aturan.” Jawaban itu membuat Rian sedikit melunak. Setidaknya Fikri masih punya akal sehat meskipun sedang jatuh cinta. “Kenapa harus surat?” tanya Rian. Fikri mengangkat dagu dengan bangga. “Karena perasaan gue terlalu dalam untuk disampaikan dengan kalimat biasa.” Rian menatapnya selama beberapa detik. “Lo bisa bilang, ‘Naila, gue suka sama lo.’ Selesai.” Fikri memegang dadanya. “Tidak semua perasaan bisa disederhanakan, Rian.” “Perasaan lo mungkin bisa. Yang nggak bisa disederhanakan itu utang kantin lo.” “Jangan bawa-bawa utang!” Tawa kecil terdengar dari kasur sebelah. Hamdan ternyata sudah bangun. Ia duduk sambil mengucek mata, lalu melirik surat di tangan Fikri. “Wah, ada yang mau menikah?” “DIAM LO!” seru Fikri. Hamdan malah tertawa. Rian menggeleng. “Belum menikah sudah ribut. Kasihan calon istrinya nanti.” “Siapa yang bilang dia bakal jadi istri gue?” Fikri membela diri. “Ini baru tahap menyampaikan perasaan.” “Nah, bagus. Berarti lo masih sadar kenyataan.” Fikri menarik napas panjang, kemudian membuka lipatan surat itu. Rian yang awalnya tidak tertarik akhirnya melirik isinya. Baru membaca dua baris pertama, dahinya langsung berkerut. “Ini bahasa apa?” “Bahasa Arab.” “Gue tahu itu bahasa Arab. Maksud gue, kenapa kalimatnya seperti orang sedang berpidato di depan kerajaan?” Fikri merebut kembali kertasnya. “Ini bahasa Arab gundul. Penuh makna.” “Penuh makna atau penuh jebakan?” “Lo nggak menghargai sastra.” Rian mengulurkan tangan. “Coba sini.” Fikri menyerahkannya dengan ekspresi seorang penyair yang sedang mempercayakan karya terakhirnya kepada dunia. Rian membaca beberapa baris. Ia memang memahami bahasa Arab yang dipelajari di pesantren, tetapi susunan kalimat Fikri membuatnya ingin mengembalikan surat itu kepada penciptanya. “Fik.” “Apa?” “Kenapa lo membandingkan kerinduan dengan nasi yang baru matang?” Fikri mengangkat telunjuk. “Karena nasi hangat memberikan kenyamanan.” “Terus kenapa ada kalimat tentang sandal yang hilang sebelah?” “Itu metafora.” Hamdan yang kini sudah duduk bersila langsung menyahut, “Metafora apa? Kalau sandal gue hilang sebelah, yang gue rasakan bukan rindu. Gue merasa pengin menginterogasi penghuni kamar satu per satu.” Rian tertawa sampai bahunya bergetar. Fikri memeluk suratnya dengan wajah kesal. “Kalian berdua tidak memiliki jiwa seni.” “Kalau Naila membaca ini, dia mungkin bukan jatuh cinta,” kata Rian sambil mengusap sudut matanya, “tapi langsung mencari kamus untuk memastikan penulisnya baik-baik saja.” “Rian!” “Iya, iya. Gue diam.” Fikri terdiam beberapa saat. Wajahnya yang semula penuh semangat perlahan berubah cemas. “Gue cuma pengin dia tahu perasaan gue,” katanya lebih pelan. “Gue tahu belum tentu dia punya perasaan yang sama. Gue juga nggak mau memaksanya. Tapi kalau gue nggak pernah berani, gue bakal terus penasaran.” Rian memandang sahabatnya. Di balik tingkah konyol Fikri, ia tahu sahabatnya benar-benar serius. Fikri bukan santri yang suka mempermainkan perasaan orang. Ia hanya terlalu takut menghadapi kemungkinan ditolak. Rian akhirnya mengulurkan tangan. “Kasih sini. Tapi gue cuma akan mencari tahu prosedur penyampaian yang benar. Kalau surat pribadi seperti ini tidak diperbolehkan, gue nggak akan memaksakannya.” Mata Fikri langsung berbinar. “Serius?” “Iya. Dan satu lagi.” “Apa?” “Kalau gara-gara surat ini gue kena masalah, lo yang tanggung jawab.” Fikri mengangguk cepat. “Tentu!” Hamdan mengangkat tangan seperti sedang mengikuti pelajaran. “Saya menjadi saksi bahwa Fikri telah membuat janji secara lisan.” “Lo diam saja, Dan!” Pagi itu, Rian belum tahu bahwa keputusan kecilnya akan menjadi awal dari rangkaian kejadian yang menguras kesabaran, mengundang tawa, dan perlahan mengubah cara pandangnya terhadap seseorang. Menjelang siang, setelah kegiatan belajar selesai, Rian mencari informasi mengenai penyampaian dokumen melalui pengurus yang berwenang. Ia tidak ingin melanggar aturan hanya demi membantu sahabatnya. Dari seorang santri senior, ia mendapat penjelasan bahwa pesan resmi tertentu dapat disampaikan melalui pengurus yang bertugas. Namun, surat pribadi yang berpotensi menimbulkan persoalan tetap harus mengikuti ketentuan pesantren dan tidak boleh diselundupkan. Rian mengangguk. Ia berniat menyampaikan hal itu kepada Fikri dan membatalkan rencana apabila tidak ada prosedur yang sesuai. Namun, sebelum sempat kembali ke kamar, seorang santri senior bernama Farhan menghampirinya. “Rian, lo tadi mencari orang yang mengurus berkas antarkompleks, ya?” “Iya, Bang. Saya cuma mau memastikan prosedurnya.” “Kalau urusan berkas, biasanya ada santriwati senior yang membantu menerima dokumen dari pengurus putra. Tapi sekarang petugasnya sedang berganti jadwal. Coba tanyakan di meja administrasi yang resmi, jangan menyerahkan langsung kepada orang yang tidak bertugas.” Rian mengangguk lagi. “Baik, Bang. Terima kasih.” Ia kemudian berjalan menuju kantor administrasi untuk bertanya lebih lanjut. Surat milik Fikri masih tersimpan di dalam buku catatannya, belum diserahkan kepada siapa pun. Setibanya di sana, ia mendapati beberapa berkas kegiatan sudah menumpuk di meja penerimaan. Seorang petugas memberi tahu bahwa pengurus yang menangani dokumen untuk kompleks putri sedang menyelesaikan tugas lain. “Kalau surat pribadi, jangan dimasukkan ke berkas resmi, ya,” pesan petugas itu. “Tunggu sampai ada kejelasan dari pengurus.” Rian mengangguk dan berniat pergi. Sayangnya, tepat ketika ia hendak memasukkan kembali surat tersebut ke dalam tas, Hamdan muncul dari arah lorong. “Rian! Fikri nunggu jawaban lo. Gimana? Bisa atau nggak?” “Belum bisa. Kita harus memastikan prosedurnya dulu.” Hamdan mengintip ke arah buku catatan Rian. “Suratnya masih ada?” “Masih. Dan jangan disentuh.” “Gue cuma melihat.” “Kalimat itu biasanya menjadi awal dari bencana.” Hamdan tertawa, lalu menepuk bahu Rian sebelum pergi. Rian pun kembali menuju kamar dengan niat menyelesaikan persoalan itu secara baik-baik.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

1 Komentar