Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
*Kisah Cemburunya Aisyah Kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم*
Pada suatu hari, Rasulullah صلى الله عليه وسلم sedang berada di rumah salah seorang istrinya, yaitu Aisyah radhiyallahu ‘anha. Saat itu, salah seorang istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang lain mengirimkan makanan melalui seorang pelayan. Makanan tersebut diletakkan di dalam sebuah piring untuk Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Namun, ketika Aisyah melihat hal itu, rasa cemburu muncul di hatinya. Karena terbawa perasaan cemburu, Aisyah memukul tangan pelayan tersebut hingga piring yang dibawanya jatuh dan pecah. Makanan yang ada di dalam piring itu pun berhamburan. Bayangkan, piring yang tadinya utuh kini pecah hanya karena kecemburuan seorang istri yang begitu mencintai suaminya. Namun, apa yang dilakukan Rasulullah صلى الله عليه وسلم? Beliau tidak langsung memarahi Aisyah. Beliau justru mengumpulkan pecahan piring tersebut dan mengumpulkan kembali makanan yang berserakan. Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda kepada orang-orang yang ada di sana: *_“Ibu kalian sedang cemburu.”_* Maksudnya adalah bahwa Aisyah, yang merupakan salah seorang ibu kaum mukminin, sedang diliputi rasa cemburu. Rasulullah صلى الله عليه وسلم kemudian meminta agar pelayan itu menunggu sampai piring pengganti dibawa. Beliau memberikan piring yang utuh kepada istri yang piringnya pecah, sedangkan piring yang pecah tetap berada di rumah tempat piring itu dipecahkan.  *Apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini?* Dari kisah tersebut, kita belajar bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم memahami perasaan istrinya. Beliau tidak mempermalukan Aisyah di hadapan orang lain, tetapi menghadapi kejadian itu dengan tenang dan menyelesaikan persoalannya dengan adil. Cemburu adalah perasaan manusiawi. Bahkan Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri yang sangat dicintai Rasulullah صلى الله عليه وسلم, pernah merasakannya. Namun, perasaan cemburu tetap perlu dijaga agar tidak menyakiti orang lain. Cinta bukan berarti tidak pernah cemburu. Cinta juga tentang bagaimana kita menyikapi kecemburuan dengan bijaksana. Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajarkan bahwa kelembutan dan keadilan tetap harus dijaga, bahkan ketika seseorang sedang dikuasai emosi. _📖 Sumber: Shahih al-Bukhari no. 5225, Kitab Pernikahan, Bab Kecemburuan._ #kisahrosul