Fiary
5 jam
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

ILMU SAJA TIDAK CUKUP: JADILAH MURID YANG BAIK SEBELUM MENJADI GURU

ILMU SAJA TIDAK CUKUP: JADILAH MURID YANG BAIK SEBELUM MENJADI GURU gambar oleh Fiary
Ada sebuah pelajaran berharga yang sering kita lupakan. Sebelum seseorang menjadi guru, ia harus belajar menjadi murid yang baik. Sebelum seseorang menjadi ayah, ia harus belajar menjadi anak yang baik. Abuya Prof. Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun menyampaikan sebuah nasihat yang mendalam: إذا لم تكن طالبا جيدا، فلن تكون أستاذا جيدا. وإذا لم تكن ابنا جيدا، فلن تكون أبا جيدا. كن مع العلم على وعي، وأخلاق، وانضباط، ستنجح بإذن الله Jika engkau tidak bisa menjadi murid yang baik, engkau tidak akan bisa menjadi guru yang baik. Jika engkau tidak bisa menjadi anak yang baik, engkau tidak akan bisa menjadi ayah yang baik. Jadilah orang berilmu dengan kesadaran, akhlak, dan kedisiplinan, maka engkau akan sukses dengan izin Allah. Nasihat ini mengajarkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak ilmu yang kita miliki, tetapi juga oleh bagaimana kita menempatkan diri di hadapan ilmu dan orang-orang yang mengajarkannya. Seorang murid yang baik bukan sekadar orang yang rajin membaca buku atau mampu menjawab pertanyaan gurunya. Ia juga belajar menghormati, mendengarkan, menerima nasihat, dan memperbaiki kesalahan. Ia tidak merasa malu ketika belum tahu, tidak sombong ketika mulai memahami, dan tidak meremehkan orang lain hanya karena merasa lebih berilmu. Sebab, orang yang hari ini duduk sebagai murid mungkin kelak akan berdiri di hadapan banyak orang sebagai guru. Jika sejak awal ia tidak belajar menghargai ilmu dan gurunya, bagaimana ia akan menanamkan penghormatan terhadap ilmu kepada murid-muridnya kelak? Begitu pula dengan kehidupan keluarga. Sebelum menjadi seorang ayah, seseorang pernah menjadi anak yang menerima didikan, kasih sayang, nasihat, dan pengorbanan orang tuanya. Pengalaman itu seharusnya mengajarkannya bagaimana memperlakukan anak-anaknya kelak dengan kasih sayang, tanggung jawab, dan kebijaksanaan. Namun, menjadi anak yang baik bukan berarti seseorang harus menjadi manusia sempurna. Begitu pula menjadi murid yang baik bukan berarti tidak boleh bertanya atau berbeda pendapat. Yang terpenting adalah memiliki adab, kerendahan hati, kemauan untuk belajar, serta kesediaan memperbaiki diri. Ilmu tanpa kesadaran dapat membuat seseorang merasa paling benar. Ilmu tanpa akhlak dapat membuat seseorang menyakiti orang lain dengan perkataannya. Sementara ilmu tanpa kedisiplinan sering kali berhenti sebagai pengetahuan yang tidak pernah diwujudkan dalam kehidupan. Karena itu, jangan hanya bercita-cita menjadi orang berilmu, guru yang dihormati, atau orang tua yang disegani. Mulailah dengan memperbaiki diri sebagai seorang penuntut ilmu, sebagai seorang anak, dan sebagai manusia yang terus belajar. Sebab, sebelum kita mampu membimbing orang lain, kita perlu belajar membimbing diri sendiri. Sebelum mengajarkan kebaikan kepada orang lain, kita perlu berusaha menghidupkan kebaikan itu dalam diri kita. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang luas ilmunya, baik akhlaknya, kuat kedisiplinannya, dan rendah hati dalam menerima kebenaran. Semoga ilmu yang kita pelajari menjadi jalan kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, dan orang-orang di sekitar kita. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Nasihat: Abuya Prof. Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun #NasihatUlama #AdabMenuntutIlmu #AkhlakMulia #PendidikanIslam #RenunganIslami
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar